Home

4.2 Pembentukan Jiwa yang Kuat

Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis. Apa yang bergerak dalam jiwa manusia adalah ruh yang diarahkan oleh hati.

Hati yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ‘fuad’ diaktifkan oleh Allah setelah dua indera mata dan telinga, bukan setelah mulut dan tangan. Ini artinya adalah bahwa mata yang digunakan untuk menelusuri alam ini akan menuntun manusia untuk mengarahkan telinganya mendengarkan penjelasan yang belum didapatinya dari penelusuran sendiri. Telinga digunakan untuk menerima penjelasan dari orang lain atau guru berpengalaman. Diaktifkannya hati ditujukan agar manusia bisa menerima penjelasan yang datang dari luar dirinya. Kesiapan menerima penjelasan dari luar diri itulah yang akan mampu mengubah karakter dan mengarahkannya menuju yang lebih baik. Hati diberikan Allah seiring dengan berfungsinya akal untuk membandingkan apa yang dilihat dan didengar. Ketidak-sesuaian antara penjelasan dan penelusuran akan memainkan hati dan membentuk jiwa yang luas dan bijak.

Al-Qur’an dengan ayat-ayatnya yang kaya akan penjelasan Allah tentang alam raya membentuk jiwa yang kuat. Kuncinya terletak pada kesesuaiannya jiwa dengan irama dan gerak alam semesta. Setiap kejadian yang dijelaskan Al-Qur’an akan memperkuat jiwa yang yakin, dan sebaliknya akan memperlemah jiwa yang ragu. Keyakinan dimaksud tidak dating serta-merta namun melalui proses pemahaman hati. Lihatlah cara Al-Qur’an memberi keyakinan tentang Allah.

“Bukan engkau yang memanah ketika engkau memanah tetapi Allahlah yang memanah.” (QS, 8:17)

“Tiada kemenangan melainkan dari sisi Allah.” (QS, 8:10)

“Dan kamu tidak menentukan kehendak kamu kecuali dikehendaki Allah.” (QS, At-Takwir: 29).

Pembentukan jiwa yang kuat memiliki pola yang seragam dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an yaitu dengan memberikan keyakinan yang kuat akan keberadaan Allah dan mengusir semua keraguan yang akan kuasa Allah.

4.2.1 Pembentukan Kekuatan Jiwa Nabi Ibrahim

Dengan julukan sebagai khalilullah, Ibrahim dikenal amat kuat dalam memegang keyakinan akan keesaan Allah dan keyakinan akan adanya tuhan yang melebihi segalanya. Ibrahim kecil diberikan kekuatan jiwa yang luar biasa dengan keyakinannya tersebut. Dia tidak pandang dengan siapa dia berhadapan bila ingin membela keyakinannya yang dianggapnya benar. Lihatlah kisahnya saat dia mempertanyakan keberadaan berhala yang dibuat dan dijual oleh ayahnya dan kemudian disembah oleh kebanyakan manusia saat itu.

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS,6:74).

Pertanyaan ini lahir karena dua hal. Yang pertama adalah hidayah Allah dan yang kedua adalah akal dan hati yang berpadu setelah kuat mata dan telinganya. Keadaan yang demikianpun belum memuaskan Ibrahim dan masih merasa lemah dengan keraguan yang merongrongnya. Yang Ibrahim ragukan bukanlah hal main-main. Dia mampu ragu akan kekuasaan Allah, melebihi keraguan siapapin. Sengaja disini digunakan istilah ‘mampu ragu’ karena keadaan ragu itupun merupakan kemampuan yang adatang setelah analisi (nalar-nazhar-mata) yang bekerja tepat dan konsiderasi (input-dengar-telinga).

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana engkau menghidupkan arang yang mati. ‘Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).’” (QS. al-Baqarah: 260).

Permintaan Ibrahim agar dipertontonkan kekuasaan Allah ini tidaklah tanpa dasar. Jawaban ‘agar hatiku lebih mantap’ merupakan hasil perpaduan analisa dan konsiderasi yang membuka jalan panjang yang berputar menuju pusat iman (fuad). Permintaan Ibrahim terhadap hal tersebut dipengaruhi oleh keimanan yang luar biasa; keimanan yang dipenuhi cinta kepada Allah SWT. Lalu apa jawab Allah?

“(Kalau demikian), ambillah empat ekor burung lalu cincanglah semuanya. Allah berfirman: ‘Lalu letakkanlah di atas bahagian- bahagian itu, kemudian panggillah mereka, nescaya mereka datang kepadamu dengan segera,” dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 260)

Ibrahim melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah SWT. Disembelihnya empat ekor burung lalu dipisah-misahkannya tiap bagiannya di atas gunung, kemudian dipanggilnya dengan nama Allah SWT. Tiba-tiba bulu-bulu dan burung itu bangkit dan bergabung dengan sayap-sayapnya, kemudian dada dari burung itu mencari kepalanya. Akhirnya, bahagian-bahagian burung yang terpisah kembali bergabung. Burung itu pun kembali mendapatkan kehidupan dan terbang dengan cepat kembali ke pangkuan Ibrahim.

Dengan terjawabnya permintaan Ibrahim itu maka jiwanya tak tertandingi siapapun kuatnya, bahkan raja Namrud yang merasa kuat dan besar serta paling berkuasapun tidak mampu membuatnya takut. Apa yang ada dalam diri Ibrahim adalah ruh tuhan yang sebenarnya tang tidak mampu dikalahkan oleh raja sekuat apapun. Di dalam jiwa yang kiwa yang kuat terdapat keyakinan yang kuat. Di dalam jiwa Ibrahim yang kuat ada Allah.

4.2.2 Penderitaan Nabi Yusuf dan Ayub

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya. ” (QS. Yusuf: 3)

“Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: (‘Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalian keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’: 83-84)

Kisah Yusuf dalam al-quran disebut sebagai kisah terbaik, sementara Nabi Ayub disebut sebagai manusia sabar. Para ulama berbeda pendapat dalam hal mengapa kisah Yusuf disebut sebagai kisah yang terbaik? Ada yang mengatakan bahwa kisah ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kisah-kisah Al-Qur’an yang lain dilihat dari sisi kandungannya yang memuat berbagai ungkapan dan hikmah. Ada yang mengatakan kerana Nabi Yusuf mengampuni saudara-saudaranya dan bersikap sabar atas tindakan mereka. Ada yang mengatakan lagi bahwa kerana di dalamnya terdapat kisah para nabi dan orang-orang soleh, terdapat juga pelajaran tentang kehormatan diri dan adanya godaan, kehidupan para raja, lelaki dan wanita, tipu daya kaum wanita, di dalamnya juga disebut tentang aspek tauhid dan fiqih, pengungkapan mimpi dan penakwilannya. Di samping itu, ia adalah surah yang penuh dengan peristiwa-peristiwa dan petualangan emosi (perasaan atau cinta). Ada yang mengatakan bahwa ia disebut sebagai kisah yang terbaik kerana semua orang-orang yang disebut di dalamnya pada akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Alhasil, dipercaya bahwa terdapat sebab penting di balik keistimewaan kisah ini. Kisah dalam surah tersebut bermuara dari awal sampai akhir pada satu bentuk

di mana Anda akan merasakan adanya kekuasaan Allah s.w.t dan terlaksananya perintah-Nya meskipun banyak manusia berusaha menentangnya.

Kisah Yusuf diceritakan mulai dari kecilnya sampai suksesnya dengan runtun oleh Allah swt dalam satu surat penuh bertajuk nama Nabi Yusuf as. Penderitaannya membawanya kepada kesuksesan yang melebihi harapannya. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan wafat oleh ibu kandungnya Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun. Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya’qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahwa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang lain

“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia he suatu (daerah yang tidak di kenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka berkata: ‘Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dalam telaga, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat. ” (QS. Yusuf: 7-10).

Dibuangnya Yusuf bukanlah di luar rencana Allah. Mimpi yang diperlihatkan Allah kepada Yusuf adalah bukti akan adanya rencana Allah yang jelas untuk membentuk jiwa yusuf agar kuat. Tidaklah pantas dikatakan bahwa Yusuf itu dibuang sebagai akibat dari rasa dengki yang kuat dalam diri saudara-saudara Yusuf. Itu hanyalah sebab yang dapat diterima dan dipahami oleh keterbatasan akal manusia. Yang sesungguhnya terjadi adalah

pendidikan Allah yang dilaksanakan langsung oleh Allah dengan menggunakan sisi kemanusiaan al-asbath (saudara-saudara Yusuf).

Belumkah jelas pola didikan yang sama juga digunakan Allah dalam mendidik Ayub dengan memnafaatkan keberadaan dan mengabulkan permintaan syaithan untuk menggoda keikhlasan dan keteguhan iman Ayub.

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan seksaan’ (Allah berfirman): ‘Hentamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 41-44)

Sebagai kesimpulan dari macam pendidikan ini adalah bahwa penderitaan itu digunakan Allah untukmeneguhkan dan menguatkan jiwa utusanNya atau seseorang yang dikehendakinya. Bila manusaia teah mampu bersabar sampai kepada tingkat tertinggi, dalam pendapat para sufi, maka malulah Allah. Namun barang siapa yang tidak mampu mengendalikan sabarnya maka dia diusir oleh Allah dari bumi Allah. Lalu akan kemanakah setelah keluar dari bumi Allah? Bila seseorang telah memahami akan makna kesabaran maka ia telah menjadi manusia mulai di sisi Allah sebagaimana nabi Ayub dan Yusuf. Sukses akan menunggu dengan tidak sabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s